Rabu, 27 November 2013

CONDITIONAL SENTENCES

CONDITIONAL SENTENCES
Conditional Sentence (=Kalimat pengandaian) adalah kalimat yang digunakan untuk menyatakan sesuatu yang mungkin terjadi atau mungkin tidak terjadi seperti yang diharapkan.
Conditional Sentence (Kalimat Pengandaian) dalam bahada inggris selalu berbentuk kalimat majemuk (compound sentence), yaitu kalimat yang terdiri atas Main Clause (Induk Kaimat) dan Subordinate Clause (Anak Kalimat). Pada bentuk conditional sentence ini antara induk kalimat dengan amak kalimat dihubungkan dengan “ if (jika) ”.
Main clause (induk kalimat) adalah bagian dari kalimat majemuk yang dapat berdiri sendiri serta memiliki arti yang lengkap jika berpisah dari bagian yang lain dalam kalimat majemuk.
Sedangkan Subordinate Clause (anak kalimat) adalah bagian dari kalimat majemuk yang tidak dapat berdiri sendiri seandainya berpisah dari bagian yang lain dalam kalimat majemuk.
Terdapat tiga tipe conditional sentence. Secara singkat ketiga tipe tersebut bisa dilihat di tabel berikut:
tabel conditional sentence
Conditional Sentence Type I
Kalimat conditional disebut juga dengan kalimat pengandaian. Contoh di bawah ini:
If I have a lot of money, I will go to America.
I will sleep if I am sleepy.
If my father has much money, he will buy a new house.
Ketiga contoh di atas adalah contoh dari conditional sentence. Conditional sentence terdiri dari 2 bagian yaitu: subordinate clause dan main clause. Subordinate clause (if + clause) merupakan pernyataan syarat atau kondisi. Sedangkan main clause pada conditional sentence adalah pernyataan akibat terpenuhinya (+) atau tidak terpenuhinya (-) persyaratan yang ada pada subordinate clause atau kondisi yang ada pada subordinate clause.
Perhatikan kembali contoh di atas:
If  I have a lot of money…(subordinate clause) kalimat ini merupakan syarat untuk terjadinya sesuatu yaitu : I will go to America. (main clause). Jadi saya akan pergi ke Amerika jika saya mempunyai banyak uang.
Conditional sentence type 1
Conditional sentence type 1 bermakna future karena akibat (main clause) berbentuk future dan subordinate clause berbentuk simple present tense.  kejadian yang ada pada main clause yang berbentuk future tersebut akan terjadi bila persyaratan yang ada pada subordinate clause (if…) terpenuhi.
Rumus condtional sentence type 1
If +simple present tense, Simple future tense
Simple future tense + if + simple present tense
NOTE: jangan lupa memasukan , (comma) jika ingin meletakkan subordinate clause terlebih dahulu. Tidak perlu meletakkan koma jika main clause anda masukan terlebih dahulu.
If she has my address, she will send the invitation to me.
They will buy a car if they have money.
My mother will go to Bali if she has a lot of money.
You will be late if you sleep late.
He will not come if you are angry with him.
Conditional Sentence Type II
Conditional sentence type II  Rumusnya sebagai berikut:
If   +  Simple past tense  +  ,  +  Past future tense
Past future tense + if + simple past tense
Contoh:
If I found her address, I would send her an invitation.
I would send her an invitation if I found her address.
If I had a lot of money, I wouldn’t stay here.
If I were you, I would not do this.
Conditional type II ini digunakan sebagai aplikasi kejadian masa sekarang atau present. Kejadiannya akan terjadi jika kondisi yang ada pada subodinate clausenya berbeda.
Contoh :
Example: If I found her address, I would send her an invitation.
Pada contoh di atas, telah jelas bahwa saya ingin mengirimkan undangan kepada seorang teman. Saya sudah mencari alamatnya tetapi tidak ditemukan. Jadi tidak mungkin saya akan mengirimkan undangannya karena saya tidak mengetahui alamatnya.  Jadi fakta dari kalimat conditionalnya pada contoh di atas adalah: tidak jadi mengirimkan undangan karena tidak mengetahui alamatnya.
Contoh lain:
If John had the money, he would buy a Ferrari.
Saya kenal John. Dia tidak punya banyak uang (ini fakta yang ada). Akan tetapi dia sangat suka denga mobil ferari dan sangat ingin membelinya. Akan tetapi ini hanya mimpi John belaka karena tidak mungkin dia membeli ferari karena dia tidak punya uang.
Dari penjelasan ini sangat jelas perbedaan conditional sentence type I dan II. Pada type I… kondisinya pada subordinate clause berbentuk present dan ini kemungkinan besar terjadi. Sedangkan pada type II, kondisi pada subordinate clause berbentuk simple past tense yang menyatakan masa lampau..yang jelas jika masa lampau adalah masa yang sudah lewat dan kita telah mengetahuinya. Jadi type dua adalah kalimat pengandaian yang tidak mungkin terjadi, sedangkan type I bisa saja terjadi.
Conditional Sentence type III
Pada conditional sentence type II merupakan aplikasi dari kondisi atau kejadian yang ada pada masa present/simple present tense, sedangkan type III ini merukan aplikasi kejadian masa lampau atau simple past tense. Terkadang, di masa lampau kita mempunyai keinginan yang tidak dapat kita wujudkan. Lalu kita ingin bercerita kepada teman atau orang lain. Misalkan:
“ tahun lalu, saya ingin membeli rumah baru, akan tetapi saya tidak punya uang.”
Perhatikan contoh di atas yang sengaja saya buat dalam bahasa Indonesia! Bahwasanya tahun lalu (masa lampau) saya ingin membeli rumah baru dan saya tidak punya uang. Jadi conditional type I adalah pengandaian yang kemungkinan besar terjadi, type II aplikasi masa present yang merupakan pengandaian yang tidak mungkin terjadi  dan type III adalah  aplikasi kondisi masa lampau atau bentuk past tense yang memang sudah pasti tidak terjadi karena merupakan aplikasi masa lampau.
Rumus conditional type III
If  + Past perfect + , + Past future perfect tense
Past future perfect tense + if + past perfect
Contoh:
If I had found her address, I would have sent her an invitation.
I would have sent her an invitation if I had found her address.
If I hadn’t studied, I wouldn’t have passed my exams.
If John had had the money, he would have bought a Ferrari.  
Sumber :
  1. [Sumber : ABC Plus (Acurate, Bright & Clear) English Grammar, Penulis : Drs. Rudy Hariyono – Andrew Mc. Carthy, Tahun 2008, hal : 520-522.]
  2. http://linggris.wordpress.com/2010/07/25/conditional-sentences/
  3. http://belajarbahasainggrisonlinegratis.blogspot.com/2013/02/conditional-sentence-type-i.html
  4. http://belajarbahasainggrisonlinegratis.blogspot.com/2013/02/conditional-sentence-type-2.html
  5. http://belajarbahasainggrisonlinegratis.blogspot.com/2013/02/conditional-sentence-type-iii.html



strategi pelaksanaan isolasi sosial keluarga

STRATEGI PELAKSANAAN (SP)
Masalah Utama           : Isolasi Sosial
A.    PROSES KEPERAWATAN
1.      Kondisi Klien
a.)    Data obyektif:      
Apatis, ekpresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri dikamar, banyak diam, kontak mata kurang (menunduk), menolak berhubungan dengan orang lain, perawatan diri kurang, posisi menekur.
b.)    Data subyektif:    
Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab dengan singkat, ya atau tidak.
2.      Diagnosa Keperawatan :Isolasi sosial : menarik diri 
B.     Strategi pelaksanaan tindakan:
Tujuan khusus :
1. Klien mampu mengungkapkan hal – hal yang melatarbelakangi terjadinya isolasi sosial
2. Klien mampu mengungkapkan keuntungan berinteraksi
3. Klien mampu mengungkapkan kerugian jika tidak berinteraksi dengan orang lain
4. Klien mampu mempraktekkan cara berkenalan dengan satu orang
Tindakan keperawatan.
1.    Mendiskusikan faktor – faktor yang melatarbelakangi terjadinya isolasi sosial
2.    Mendiskusikan keuntungan berinteraksi
3.    Mendiskusikan kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
4.    Mendiskusikan cara berkenalan dengan satu orang secara bertahap
SP 1 Pasien: Membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal

penyebab isolasi sosial, membantu pasien mengenal keuntungan berhubungan dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain, dan mengajarkan pasien berkenalan  

ORIENTASI (PERKENALAN):
“Selamat pagi ”
“Saya nurhakim yudhi wibowo, Saya senang dipanggil yudi, Saya mahasiswa UNDIP yang akan merawat Ibu.”
“Siapa nama Ibu? Senang dipanggil siapa?”
“Apa keluhan ibu hari ini?” Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman ibu ? Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tamu? Mau berapa lama, bu? Bagaimana kalau 15 menit”
KERJA:
(Jika pasien baru)
”Siapa saja yang tinggal serumah? Siapa yang paling dekat dengan ibu? Siapa yang jarang bercakap-cakap dengan ibu? Apa yang membuat ibu jarang bercakap-cakap dengannya?”
(Jika pasien sudah lama dirawat)
”Apa yang ibu rasakan selama ibu dirawat disini? O.. ibu merasa sendirian? Siapa saja yang ibu kenal di ruangan ini”
 “Apa saja kegiatan yang biasa ibu lakukan dengan teman yang ibu kenal?”
 “Apa yang menghambat ibu dalam berteman atau bercakap-cakap dengan pasien yang  lain?”
 ”Menurut ibu apa saja keuntungannya kalau kita mempunyai teman ? Wah benar, ada teman bercakap-cakap. Apa lagi ? (sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) Nah kalau kerugiannya tidak mampunyai teman apa ya ibu ? Ya, apa lagi ? (sampai pasien
dapat menyebutkan beberapa) Jadi banyak juga ruginya tidak punya teman ya. Kalau begitu inginkah ya ibu ? belajar bergaul dengan orang lain ?
«  Bagus. Bagaimana kalau sekarang  kita belajar berkenalan dengan orang lain”
 “Begini lho ibu ?, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dulu nama kita dan nama panggilan yang kita suka asal kita dan hobi. Contoh: Nama Saya T, senang dipanggil T. Asal saya dari Flores, hobi memancing”
“Selanjutnya ibu menanyakan nama orang yang diajak berkenalan. Contohnya begini: Nama Bapak siapa? Senang dipanggil apa? Asalnya dari mana/ Hobinya apa?”
“Ayo ibu dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan ibu. Coba berkenalan dengan saya!”
“Ya bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus sekali”
“Setelah ibu berkenalan dengan orang tersebut ibu bisa melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang menyenangkan ibu bicarakan. Misalnya tentang cuaca, tentang hobi, tentang keluarga, pekerjaan dan sebagainya.”
TERMINASI:
”Bagaimana perasaan ibu setelah kita  latihan berkenalan?”
” ibu tadi sudah mempraktekkan cara berkenalan dengan baik sekali”
”Selanjutnya ibu dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya tidak ada. Sehingga ibu lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain.  S mau praktekkan ke pasien lain. Mau jam berapa mencobanya. Mari kita masukkan pada jadwal kegiatan hariannya.”
”Besok pagi jam 10 saya akan datang kesini  untuk mengajak ibu berkenalan dengan teman saya, perawat N. Bagaimana, ibu mau kan?”
”Baiklah, sampai jumpa.”
 
SP 2 Pasien : Mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap  
                      (berkenalan dengan orang pertama -seorang perawat-)
ORIENTASI :
“Selamat pagi bu! ”
“Bagaimana perasaan ibu hari ini?
« Sudah dingat-ingat lagi pelajaran kita tetang berkenalan »Coba sebutkan lagi sambil bersalaman dengan perawat ! »
« Bagus sekali, ibu masih ingat. Nah  seperti janji saya, saya akan mengajak ibu mencoba berkenalan  dengan teman saya perawat T. Tidak lama kok, sekitar 10 menit »
« Ayo kita temui perawat T disana »
KERJA :
( Bersama-sama klien saudara mendekati perawat N)
« Selamat pagi perawat N, ini  ingin berkenalan dengan N »
« Baiklah bu, ibu bisa berkenalan dengan perawat T seperti yang kita praktekkan kemarin « 
(pasien mendemontrasikan cara berkenalan dengan perawat T : memberi salam, menyebutkan nama, menanyakan nama perawat, dan seterusnya)
« Ada lagi yang ibu ingin tanyakan kepada perawat T . coba tanyakan tentang keluarga perawat T »
« Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ibu bisa sudahi perkenalan ini. Lalu ibu bisa buat janji bertemu lagi dengan perawat T, misalnya  jam 1 siang nanti »
« Baiklah perawat T, karena ibu sudah selesai berkenalan, saya  dan ibu akan kembali ke ruangan ibu. Selamat pagi »
(Bersama-sama pasien saudara meninggalkan perawat T untuk melakukan terminasi dengan klien di tempat lain)
TERMINASI:
 “Bagaimana perasaan ibu setelah berkenalan dengan perawat T”
ibu tampak bagus  sekali saat berkenalan tadi” 
”Pertahankan terus  apa yang sudah ibu lakukan tadi. Jangan lupa untuk menanyakan topik lain supaya perkenalan berjalan lancar. Misalnya menanyakan keluarga, hobi, dan sebagainya. Bagaimana, mau coba dengan perawat lain. Mari kita masukkan pada jadwalnya. Mau berapa kali sehari? Bagaimana kalau 2 kali. Baik nanti ibu coba sendiri. Besok kita latihan lagi ya, mau jam berapa? Jam 10? Sampai besok.”

SP 3 Pasien : Melatih Pasien Berinteraksi Secara Bertahap (berkenalan dengan orang kedua-seorang pasien)

ORIENTASI:
“Selamat pagi bu! Bagaimana perasaan hari ini?
”Apakah ibu bercakap-cakap dengan perawat Tkemarin siang”
(jika jawaban pasien: ya, saudara bisa lanjutkan komunikasi berikutnya orang lain
 ”Bagaimana perasaan ibu setelah bercakap-cakap dengan perawat T kemarin siang”
”Bagus sekali ibu menjadi senang karena punya teman lagi”
”Kalau begitu ibu ingin punya banyak teman lagi?”
”Bagaimana kalau sekarang kita berkenalan lagi dengan orang lain, yaitu pasien O”
”seperti biasa kira-kira 10 menit”
”Mari kita temui dia di ruang makan”
KERJA:
( Bersama-sama S saudara mendekati pasien )
« Selamat pagi , ini ada pasien saya yang ingin berkenalan. »
« Baiklah bu, ibu sekarang bisa berkenalan dengannya seperti yang telah ibu lakukan sebelumnya. » 
(pasien mendemontrasikan cara berkenalan: memberi salam, menyebutkan nama, nama panggilan, asal dan hobi dan menanyakan hal yang sama). »
« Ada lagi yang ibu ingin tanyakan kepada O»
« Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, ibu bisa sudahi perkenalan ini. Lalu ibu bisa buat janji bertemu lagi, misalnya bertemu lagi jam 4 sore nanti »
(ibu membuat janji untuk bertemu kembali dengan O)
« Baiklah O, karena ibu sudah selesai berkenalan, saya  dan klien akan kembali ke ruangan ibu. Selamat pagi »
(Bersama-sama pasien saudara meninggalkan perawat O untuk melakukan terminasi dengan S di tempat lain)
TERMINASI:
 “Bagaimana perasaan ibu setelah berkenalan dengan O”
”Dibandingkan kemarin pagi, T tampak lebih baik saat berkenalan dengan O”  ”pertahankan apa yang sudah ibu lakukan tadi. Jangan lupa untuk bertemu kembali dengan O  jam 4 sore nanti”
”Selanjutnya, bagaimana jika kegiatan  berkenalan dan bercakap-cakap dengan orang lain kita tambahkan lagi di jadwal harian. Jadi satu hari ibu dapat berbincang-bincang dengan orang lain sebanyak tiga kali, jam 10 pagi, jam 1 siang dan jam 8 malam, ibu bisa bertemu dengan T, dan tambah dengan pasien yang baru dikenal. Selanjutnya ibu bisa berkenalan dengan orang lain lagi secara bertahap.    Bagaimana ibu, setuju kan?”
”Baiklah, besok kita ketemu lagi untuk membicarakan pengalaman ibu. Pada jam yang sama dan tempat yang sama ya. Sampai besok.”
1.      Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
Tujuan:
setelah tindakan keperawatan keluarga mampu merawat pasien isolasi  sosial

Tindakan:

Melatih Keluarga Merawat Pasien Isolasi sosial

Keluarga merupakan sistem pendukung utama bagi pasien untuk dapat membantu pasien mengatasi masalah isolasi sosial ini, karena keluargalah yang selalu bersama-sama dengan pasien sepanjang hari.
Tahapan melatih keluarga agar mampu merawat pasien isolasi sosial di rumah meliputi:
1.)    Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.
2.)    Menjelaskan tentang:
·         Masalah isolasi sosial dan dampaknya pada pasien.
·         Penyebab isolasi sosial.
·         Cara-cara merawat pasien dengan isolasi sosial, antara lain:
-          Membina hubungan saling percaya dengan pasien dengan cara bersikap peduli dan tidak ingkar janji.
-          Memberikan semangat dan dorongan kepada pasien untuk bisa melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain yaitu dengan tidak mencela kondisi pasien dan memberikan pujian yang wajar.
-          Tidak membiarkan pasien sendiri di rumah.
-          Membuat rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan pasien.
3.)    Memperagakan cara merawat pasien dengan isolasi sosial
4.)    Membantu keluarga mempraktekkan cara merawat yang telah dipelajari, mendiskusikan yang dihadapi.
5.)    Menjelaskan perawatan lanjutan
SP 1 Keluarga :   Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang masalah isolasi   sosial, penyebab isolasi sosial, dan cara merawat pasien dengan  isolasi sosial    
      Peragakan kepada pasangan saudara komunikasi dibawah ini
ORIENTASI:
“Selamat pagi  Pak”
”Perkenalkan saya perawat Y....., saya yang merawat, anak bapak”
”Nama Bapak siapa? Senang dipanggil apa?”
” Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana keadaan anak sekarang?”
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang masalah anak Bapak dan cara perawatannya”
 ”Kita diskusi di sini saja ya? Berapa lama Bapak punya waktu? Bagaimana kalau setengah  jam?”
KERJA:
”kira-kira bapak tahu apa yang terjadi dengan anak bapak? Apa yang sudah dilakukan?”
“Masalah yang dialami oleh anak disebut isolasi sosial. Ini adalah salah satu gejala penyakit yang juga dialami oleh pasien-pasien gangguan jiwa yang lain”.
” Tanda-tandanya antara lain tidak mau bergaul dengan orang lain, mengurung diri, kalaupun berbicara hanya sebentar dengan wajah menunduk”
”Biasanya masalah ini muncul karena memiliki pengalaman yang mengecewakan   saat berhubungan dengan orang lain, seperti sering ditolak, tidak dihargai atau berpisah dengan orang–orang terdekat”
“Apabila masalah isolasi sosial ini tidak diatasi maka seseorang  bisa mengalami halusinasi, yaitu mendengar suara atau melihat bayangan yang sebetulnya tidak ada.”
“Untuk menghadapi keadaan yang demikian Bapak dan anggota keluarga lainnya harus sabar menghadapi anak bapak. Dan untuk merawat anak bapak, keluarga perlu melakukan beberapa hal. Pertama keluarga harus membina hubungan saling percaya dengan anak bapak  yang caranya adalah bersikap peduli dengan anak bapak  dan jangan ingkar janji. Kedua, keluarga perlu memberikan semangat dan dorongan kepada anak bapak untuk bisa melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain. Berilah pujian yang wajar dan jangan mencela kondisi pasien.”
« Selanjutnya jangan biarkan S sendiri. Buat rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan anak bapak. Misalnya sholat bersama, makan bersama, rekreasi bersama, melakukan kegiatan rumah tangga bersama. 
”Nah bagaimana kalau sekarang kita latihan untuk melakukan semua cara itu”
” Begini contoh komunikasinya, Pak:  anak bapak, bapak lihat sekarang kamu sudah bisa  bercakap-cakap dengan orang lain.Perbincangannya juga lumayan lama. Bapak senang sekali melihat perkembangan kamu, Nak. Coba kamu bincang-bincang dengan saudara yang lain. Lalu bagaimana kalau mulai sekarang kamu sholat berjamaah. Kalau di rumah sakit ini, kamu sholat di mana? Kalau nanti di rumah, kamu sholat bersana-sama keluarga atau di mushola kampung. Bagiamana anak bapak, kamu mau coba kan, nak ?”
”Nah coba sekarang Bapak peragakan cara komunikasi seperti yang saya contohkan”
”Bagus, Pak. Bapak telah memperagakan dengan baik sekali”
”Sampai sini ada yang ditanyakan Pak”
TERMINASI:
“Baiklah waktunya  sudah habis. Bagaimana perasaan Bapak setelah kita latihan tadi?”
“Coba Bapak  ulangi lagi apa yang dimaksud dengan isolasi sosial dan tanda-tanda orang yang mengalami isolasi sosial »
« Selanjutnya bisa Bapak sebutkan kembali cara-cara merawat anak bapak yang mengalami masalah isolasi sosial »  
« Bagus sekali Pak, Bapak bisa menyebutkan kembali cara-cara perawatan tersebut »
«Nanti kalau ketemu S coba Bp/Ibu lakukan. Dan tolong ceritakan kepada semua keluarga agar mereka juga melakukan hal yang sama. »
«  Bagaimana kalau kita betemu tiga hari lagi untuk latihan langsung kepada S ? »
« Kita ketemu disini saja ya Pak, pada jam yang sama »

 

SP 2 Keluarga : Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan  masalah isolasi sosial langsung dihadapan pasien

Orientasi:
“Selamat pagi Pak/Bu”
” Bagaimana perasaan Bpk/Ibu hari ini?”
”Bapak masih ingat latihan merawat anak Bapak seperti yang kita pelajari  berberapa hari yang lalu?”
“Mari praktekkan langsung ke klien! Berapa lama waktu Bapak/Ibu Baik kita akan coba 30 menit.” 
”Sekarang mari kita temui anak bapak” 
Kerja:
”Selamat pagi mba. Bagaimana perasaan mba hari ini?”
”Bpk/Ibu mba datang besuk. Beri salam! Bagus. Tolong mba tunjukkan jadwal kegiatannya!”
 (kemudian saudara berbicara kepada keluarga sebagai berikut)
”Nah Pak, sekarang Bapak bisa mempraktekkan apa yang sudah kita latihkan beberapa hari lalu”
(Saudara mengobservasi keluarga mempraktekkan cara merawat pasien seperti yang telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya).
”Bagaimana  perasaan mba setelah berbincang-bincang dengan Orang tua mba?”
”Baiklah,  sekarang saya dan orang tua ke ruang perawat dulu”
 (Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga)
Terminasi:
“ Bagaimana perasaan Bapak/Ibu  setelah kita latihan tadi? Bapak/Ibu sudah bagus.”
« «Mulai sekarang Bapak sudah bisa melakukan cara merawat tadi kepada anak bapak »
« Tiga hari lagi kita akan bertemu untuk mendiskusikan pengalaman Bapak melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempatnya sama seperti sekarang  Pak »
« Sampai jumpa »

     SP 3 Keluarga : Menjelaskan perawatan lanjutan

ORIENTASI:
“Selamat pagi Pak/Bu”
”Karena rencana anak bapak mau pulang, maka perlu kita bicarakan perawatan lanjutan di rumah.”
”Bagaimana kalau kita membicarakan perawatan lanjutan  tersebut disini saja”
”Berapa lama kita bisa bicara? Bagaimana kalau 30 menit?”
KERJA:
”Bpk/Ibu, ini jadwal anak bapak yang sudah dibuat. Coba dilihat, mungkinkah dilanjutkan? Di rumah Bpk/Ibu yang menggantikan perawat. Lanjutkan jadwal ini di rumah, baik jadwal kegiatan  maupun jadwal minum obatnya”
”Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak Bapak selama di rumah. Misalnya kalau anak bapak terus menerus tidak mau bergaul dengan orang lain, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera lapor ke rumah sakit atau bawa anak bapak ke rumah sakit”
TERMINASI:
”Bagaimana Pak/Bu? Ada yang belum jelas? Ini jadwal kegiatan harian anak bapak. Jangan lupa kontrol ke rumah sakit sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak. Silakan selesaikan administrasinya!”

Minggu, 27 Oktober 2013

askep tonsil

LANDASAN TEORITIS PENYAKIT
1. DEFINISI
  Tonsilitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A streptococcus beta hemolitik, namun dapat juga disebabkan oleh bakteri jenis lain atau oleh infeksi virus (Hembing, 2004).
Tonsilitis akut adalah peradangan pada tonsil yang masih bersifat ringan. Radang tonsil pada anak hampir selalu melibatkan organ sekitarnya sehingga infeksi pada faring biasanya juga mengenai tonsil sehingga disebut sebagai tonsilofaringitis. (Ngastiyah,1997 )

Macam-macam tonsillitis menurut Imam Megantara (2006)
·      Tonsillitis akut
Disebabkan oleh streptococcus pada hemoliticus, streptococcus viridians, dan streptococcus piogynes, dapat juga disebabkan oleh virus.
·      Tonsilitis falikularis
Tonsil membengkak dan hiperemis, permukaannya diliputi eksudat diliputi bercak putih yang mengisi kipti tonsil yang disebut detritus. Detritus ini terdapat leukosit, epitel yang terlepas akibat peradangan dan sisa-sisa makanan yang tersangkut.
·      Tonsilitis Lakunaris
Bila bercak yang berdekatan bersatu dan mengisi lacuna (lekuk-lekuk) permukaan tonsil.
·      Tonsilitis Membranosa (Septis sore Throat)
Bila eksudat yang menutupi permukaan tonsil yang membengkak tersebut menyerupai membrane. Membran ini biasanya mudah diangkat atau dibuang dan berwarna putih kekuning-kuningan.
·      Tonsilitis Kronik
Tonsillitis yang berluang, faktor predisposisi : rangsangan kronik (rokok, makanan) pengaruh cuaca, pengobatan radang akut yang tidak adekuat dan hygiene mulut yang buruk.


2. ETIOLOGI
Penyebab tonsilitis bermacam – macam, diantaranya adalah yang tersebut dibawah ini yaitu :
§  Streptokokus Beta Hemolitikus
§  Streptokokus Viridans
§  Streptokokus Piogenes
§  Virus Influenza      
Infeksi ini menular melalui kontak dari sekret hidung dan ludah ( droplet infections )
Menurut Iskandar N (1993) Bakteri merupakan penyebab pada 50 % kasus.
  Streptococcus B hemoliticus grup A
  Streptococcus viridens
  Streptococcus pyogenes
  Staphilococcus
  Pneumococcus
  Virus
  Adenovirus
  ECHO
  Virus influenza serta herpes
Menurut Medicastore Firman S (2006) Penyebabnya adalah infeksi bakteri streptococcus atau infeksi virus. Tonsil berfungsi membantu menyerang bakteri dan mikroorganisme lainnya sebagai tindakan pencegahan terhadap infeksi. Tonsil bisa dikalahkan oleh bakteri maupun virus, sehingga membengkak dan meradang, menyebabkan tonsillitis.

3. PATOLOGI
Bakteri dan virus masuk masuk dalam tubuh melalui saluran nafas bagian atas akan menyebabkan infeksi pada hidung atau faring kemudian menyebar melalui sistem limfa ke tonsil. Adanya bakteri dan virus patogen pada tonsil menyebabkan terjadinya proses inflamasi dan infeksi sehingga tonsil membesar dan dapat menghambat keluar masuknya udara. Infeksi juga dapat mengakibatkan kemerahan dan edema pada faring serta ditemukannya eksudat berwarna putih keabuan pada tonsil sehingga menyebabkan timbulnya sakit tenggorokan, nyeri telan, demam tinggi bau mulut serta otalgia.

4. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala tonsilitis akut adalah :
v  nyeri tenggorok
v  nyeri telan
v  sulit menelan
v  Demam
v  Mual
v  Anoreksia
v  kelenjar limfa leher membengkak
v   faring hiperemis
v  edema faring
v  pembesaran tonsil
v  tonsil hyperemia
v  mulut berbau
v  otalgia ( sakit di telinga )
v  Malaise

5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosa tonsilitis akut adalah pemeriksaan laboratorium meliputi :
·      Leukosit : terjadi peningkatan
·      Hemoglobin : terjadi penurunan
·      Usap tonsil untuk pemeriksaan kultur bakteri dan tes sensitifitas obat

6. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat muncul bila tonsilitis akut tidak tertangani dengan baik adalah
·      tonsilitis kronis
·      otitis media

7. PENATALAKSANAAN
Penanganan pada klien dengan tonsilitis akut adalah :
a. penatalaksanaan medis
·      antibiotik baik injeksi maupun oral seperti cefotaxim, penisilin, amoksisilin, eritromisin dll
·      antipiretik untuk menurunkan demam seperti parasetamol, ibuprofen.
·      analgesic
b. penatalaksanaan keperawatan
·      kompres dengan air hangat
·      istirahat yang cukup
·      pemberian cairan adekuat, perbanyak minum hangat
·      kumur dengan air hangat/ air garam
·      pemberian diit cair atau lunak sesuai kondisi pasien


B. LANDASAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
·      identitas klien :
nama : Gilang
umur : 6 tahun
alamat : tabing
·      keluhan utama :
Sakit tenggorokan, nyeri telan, demam
·      riwayat penyakit
ü sekarang : klien dinyatakan menderita tonsillitis oleh dokter dan harus segera di operasi
ü riwayat kesehatan lalu : tidak ada riwayat penyakit di masa lalu
ü riwayat kesehatan keluarga : saudara klien ada yang menderita penyakit yang sama namun tidak separah klien.
ü riwayat imunisasi : klien pernah di imunisasi campak dan polio ketika bayi.
2. ANALISA DATA
No.
analisa
Etiologi
Masalah keperawatan
1.













2.













 

3.
Do :
-    suhu badan klien 38,9 C
-    Nampak klien menolak untuk minum
-    terlihat pembengkakan & kemerahan pada tonsil klien
-    teraba hangat di bagian leher klien
Ds :
“gilang hanya mau minum sedikit kalau amandelnya kumat”
“dari kemarin gilang sudah demam, ibu sudah di kasih dokter obat penurun panas. Alhmdulillah, sudah berang- sur turun demamnya”
Do :
-    Nampak klien menolak untuk makan
-    teraba bengkak dan hangat di bagian leher klien
Ds :
“gilang sulit untuk makan, mungkin karena sakit pas menelan makanan”
“gilang sering ngeluh sakit di leher sama ibu, kadang-kadang sampai menangis”
“dokter nyuruh harus cepat di operasi tapi ibu belum tega karena usianya belum sampai 8 tahun”

Do :
-       klien hanya mampu menghabiskan 3 sendok makan makanannya
-       berat badan klien turun 4 kg dari 23 kg ke 19 kg
-       Nampak klien memuntahkan makanannya
Ds :
 gilang sulit untuk makan, mungkin karena sakit pas menelan makanan”
gilang mengeluh mual dan hamper tiap diberi makan ia memuntah- kannya lagi”

Invasi kuman patogen (bakteri / virus)
V


Penyebaran limfogen
V
Proses inflamasi tonsil

V
Tonsillitis
V


Hipertermi












 
  
Invasi kuman patogen (bakteri / virus)

V
Penyebaran limfogen
V
Proses inflamasi tonsil
V


Tonsillitis
V


hipertermi
V
Edema tonsil

V
Nyeri telan










Penyebaran limfogen
V
Proses inflamasi tonsil

V
Tonsillitis

V
hipertermi
V
Edema tonsil
V


Nyeri telan
V
Sulit makan  & minum



      



Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi pada faring dan tonsil
























Nyeri akut berhubung an dengan pembeng- kakan jaringan tonsil.


























Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari ke- butuhan tubuh berhub-
ungan dengan anoreksia











intoleransi aktivitas

Resiko  kelemahan

perubahan status nutrisi    
3. DIAGNOSA YANG MUNCUL :
« Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi pada faring dan tonsil
« Nyeri akut berhubungan dengan pembengkakan jar- ingan tonsil.
« Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari ke- butuhan tubuh berhubungan dengan  anoreksia.
«  intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
«  gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubungan dengan adanya obstruksi pada tuba eustakii
4. NCP (TERAPI CAIRAN DAN OBAT)
No.
Diagnosa (NANDA)
NOC
NIC
Wakt
Hasil
Implementasi
1.




















2.
































3.
Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi pada faring & tonsil
















Nyeri akut berhu- bungan dengan pembengkakan jaringan tonsil.




























Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.

-    suhu tubuh anak kembali normal (37 C)


















Kontrol Nyeri
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan kepe- rawatan manejemen nyeri selama 3 x 24 jam diharapkan tidak ada masalah dalam nyeri dengan skala 4 sehingga nyeri dapat hilang atau berkurang

Kriteria hasil :
a.Mengenali fak tor penyebab
b.Mengenali serangan nyeri
c. Tindakan
 pertolongan nonanalgetik
d. Mengenali
 gejala nyeri
e. Melaporkan
 kontrol nyeri
Skala :
1     = Ekstream
2     = Berat
3     = Sedang
4     = Ringan
5     =TidakAda


Fluid balance
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan manejemen nutrisi selama 3 x 24 jam diharap kan tidak ada masalah nutrisi dengan skala 4 sehingga ketidak seimbangan nutrisi dapat teratasi
Kriteria hasil :
a. Adanya pening katan BB sesuai tujuan
b. BB ideal sesuai tinggi badan
c. Mampu meng- identifikasi kebutuhan nutrisi
d. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi.


Intervensi :
-Pantau suhu tubuh anak (derajat dan pola),
- perhatikan meng gigil atau tidak
-Pantau suhu ling kungan
- Batasi pengguna an linen, pakaian yang dikenakan klien
-Berikan kompres hangat
- Berikan cairan yang banyak (1500 – 2000 cc/ hari )
-Kolaborasi pem berian antipiretik


Menejemen Nyeri
Intervensi :
1. Lakukan peng- kajian nyeri secara komprehensif ter- masuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
2. Ajarkan teknik non farmakologi dengan distraksi/ latihan nafas dalam.
3. Berikan
 analgesik yang sesuai.
4. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
5. Anjurkan pasien untuk istirahat.










Manajemen nutrisi
1. Berikan makan an yang terpilih
2. Kaji ke- mampuan klien untuk mendapat- kan nutrisi yang dibutuhkan
3. Berikan makan an sedikit tapi sering
4. Berikan makan an selagi hangat dan dalam bentuk menarik.






09.00




















12.00
































14.00
-Suhu tubuh anak 38,7 C
-nadi 120x/i
-pernapasan 30x/i
- TD : 135/ 70 mmHg














-Suhu tubuh anak 38,5 C
- nadi123x/i
-pernapasan 33x/i
- TD : 135/ 70 mmHg
- skala nyeri 3 tergolong sedang























- Suhu
 tubuh anak 38,9 C
-nadi 125x/i
-pernapasan  35x/i
- TD : 135/ 70 mmHg

-    tingkatkan asupan cairan
-    berikan pen- getahuan pada anak dan orang tua akibat dari kekurangan cairan
-    beritahui ibu untuk menganti pakian anak dengan pakaian yang meresap keringat




-     Pemberian obat kumur hangat (½ sendok teh garam dalam 1 gelas air) atau obat kumur antiseptic

-   Berikan posisi dan lingkungan yang nyaman dan tenang untuk anak



























-     Memberi hiasan pada makanannya agar tampak menarik
-     Berikan makanan yang lunak dan tidak mem buat anak merasa susah untuk meng unyahnya
-     Berikan makanan yang tinggi protein dan mengan dung banyak air

5. PEMERIKSAAN FISIK (HEAD TO TOE)
§  Keadaan umum: kondisi klien secara umum, keletihan, penambahan atau penurunan berat badan, menggigil, kemampuian umum menjalankan aktivitas, dll.
§  Antropometri
1) Tinggi badan/panjang badan 120 cm
2) Berat badan 19 kg
3) Lingkar kepala 49,6 cm
4) Lingkar dada 55 cm
§  Kulit
1.      Warna: sclera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, lidah mukosa mulut agak kering.
2.      Tekstur: kelembaban kulit kurang/sedikit kering, suhu kulit agak hangat.
pada bagian leher suhu kulit agak tinggi di banding bagian yang lainnya
3.      Turgor: kulit tidak segera kembali kebentuk normal apabila diberi cubitan
§  Struktur aksesori
1). Rambut: kehigiyenisan rambut kurang, warna kulit kepala merata
2). Kuku :  inspeksi warna, tekstur, kualitas, distribusi, elastisitas, hygiene
3). Observasi lipatan fleksi pada telapak tangan.
§  Nodus Limfe
Tidak dilakukan pemeriksaan
§  Kepala
1). bentuk dan kesimetrisan : kepala klien simetris dan bentuknya normal
2). kontrol kepala (terutama pada bayi) dan postur kepala Wajah simetris, kepala pada garis tengah. pembengkakan yang nyata. kulit kepala kurang hygiene, tidak ada lesi, infestasi, trauma, kehilangan rambut, perubahan warna.
§  Leher
1). Inspeksi ukuran leher : pada leher terdapat pembengkakan dan terasa hangat
2). Trakhea : terdapat gangguan menelan karena pembengkakan dan nyeri yang di rasakan klien.
§  Mata
1.      penempatan dan kesejajaran antar kedua mata : bentuk dan posisi mata sejajar dan normal.
2.      penempatan, gerakan dan warna kelopak mata : gerakan bola mata normal dan warna mata juga normal.
3.      Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikteris.
§  Telinga
1.      penempatan dan kesejajaran : telinga sejajar dan bentuknya normal namun telinga kiri terasa nyeri oleh klien.
2.      Tidak adanya lubang abnormal, penebalan kulit, atau sinus.
3.      telinga higiene ( tidak ada bau, rabas, warna)
§  Hidung
bentuk hidung normal dan simetris. Pada hidung klien tidak teradapt secret.
§  Mulut
1.      Bibir : warna sedikit merah , bibir pecah-pecah
2.       Observasi membran mukosa: merah muda terang dan kering
3.      Gigi : jumlah sesuai dengan usia, terdapat gigi yang rusak atau belubang dan ada beberapa gigi yang busuk.
4.      Lidah : tekstur kasar, dapat bergerak bebas, ujung dapat mencapai bibir, tidak ada lesi atau massa dibawah lidah.
§  Dada
     Inspeksi ukuran (55 cm), bentuk ,kesimetrisan, gerakan normal
§  Paru
kesulitan bernafas, batuk
ukuran besarnya tonsil dinyatakan dengan :
• T0 : bila sudah dioperasi
• T1 : ukuran yang normal ada
• T2 : pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah
• T3 : pembesaran mencapai garis tengah
• T4 : pembesaran melewati garis tengah

1.      Kaji gerakan pernapasan: frekuesi, irama, kedalaman, kulaitas, dan karakter mengalami perubahan dari batas normal (18-26x/I )
2.      Auskultasi pernapasan dan bunyi suara: intensitas, nada, kualitas, durasi relatis dari inspirasi dan ekspirasi.
§  Abdomen
1.    Kaji kondisi kulit (halus dan rapi) : kondisi kulit perut klien kurang baik dan teraaba sedikit kasar
2.     Kaji gerakan abdomen. Pada anak dibawah 7-8 tahun meningkat pada inspirasi dan selaras dengan gerakan dada.
3.    Perkusi abdomen
Lambung, Hepar dan Limpa berada pada kondisi normal.
§  Genitalia dan anus
Tidak dilakukan pemeriksaan

§  Kaji kekuatan otot:
a. Lengan: anak dapat melawan tekanan dari tangan yang diberikan
b. Kaki: anak dapat melawan tekanan dari kaki yang diberikan
c. Telapak tangan: anak dapat meremas jari sesuai perintah
d. Telapak kaki: anak dapat menahan dorongan yang di berikan

6. PENGKAJIAN KESEHATAN BERDASARKAN 11 FUNGSIONAL GORDON
No.
POLA
KEBUTUHAN
DATA/FAKTA
1.
Persepsi dan Manajemen Kesehatan


Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang dideritanya dan pentingnya kesehatan bagi klien? Biasanya klien kurang mengetahui tentang penyakit yang dideritanya dan bagaimana penangannya.

pasien telah mengalami gejala penyakit sejak 3 tahun yang lalu, tapi orang tua pasien tidak mengetahuinya dan setelah orang tua mengetahui sebab sakitnya si anak di bawa kedokter dan dokter menyarankan utuk segera dilakukan operasi.
2.









 

3.





Nutrisi dan Metabolisme










Eliminasi


Kaji pola makan, keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit, kesulitan menelan, diet khusus, BB, postur tubuh, tinggi badan.
Biasanya pasien akan mengalami penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan karena memikirkan penyakit yang dideritanya.

Kaji BAB dan BAK klien. Apakah klien mengalami kesulitan BAB dan BAK?
Anak menolak untuk makan dan minum karena rasa sakit yang ditimbulkan sehingga anak tampak kurus dan berat badanya turun dari 23 menjadi 19 Kg.




Klien mengalami kesulitan BAB karena klien menolak makan dan minum sehingga BAK yang keluar pun sedikit.
4.
Tidur dan Istirahat           

Kaji frekwensi dan durasi periode istirahat tidur, penggunaan obat tidur, kondisi lingkungan saat tidur.

Ketika tidur klien gelisah dan sering terbagun karena rasa nyeri yang timbul sehingga pola tidur klien menjadi terganggu dan jam tidurnya pun berkurang.
5.
Aktivitas dan Latihan
Kaji aktivitas sehari-hari klien.
biasanya merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas dan menolak bermain dengan teman-temannya karena nyeri.
Klien menolak bermain dengan teman-teman nya karena tubuhnya lemah dan akibat nyeri yang dirasakan.
6.
Sensori dan Kognitif

Kaji kemampuan melihat dan mendengar serta meraba, disorientasi, reflek.
Klien mengalami sedikit gangguan pendengaran karena telinga kirinya terasa sakit sedangkan untuk kemampuan melihat dan meraba klien tidak mengalami gangguan.
7.
Persepsi dan Konsep Diri

Kaji perasaan harga diri, sikap tentang dirinya, identitas diri, dan  pola emosional.

Pasien mengalami kekhawatiran tentang penyakit yang dideritanya. Namun ketika tonsilnya tidak meradang klien tetap bermain bersama teman-temannya dan pasien pun tidak merasa minder dengan penyakit yang dideritanya
8.