ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN PNEUMONIA
Pneumonia adalah proses inflamasi parenkim paru yang terdapat konsolidasi dan terjadi pengisian rongga alveoli oleh eksudat yang dapat disebabkan oleh bakteri, jamur dan benda-benda asing.(Muttaqin,Arif:2008).
B. ETIOLOGI
Penyebab tersering pneumonia bakterialis adalah bakteri (+) gram, Streptococcus Pneumoniae yang menyebabkan pneumonia streptokokus. Bakteri Staphylococcus Aureus adalah streptokokus beta-hemolitikus grup A yang juga sering menyebabkan pneumonia,demikian juga pseudomonas aeroginosa. Pneumonia lain disebabkan oleh virus misalnya influenza. Pneumonia mikoplasma, Suatu pneumonia yang relatif sering dijumpai yang disebabkan oleh suatu organisme yang berdasarkan beberapa aspeknya berada diantara bakteri dan virus.(Asih&Effendy:2004).
C.PATOFISIOLOGI
Dari Berbagai macam penyebab pneumonia,seperti virus, jamur, dan riketsia, pneumonitis hipersensitive dapat menyebabkan penyakit primer.Pneumonia dapat terjadi akibat aspirasi, yang paling jelas adalah pada klien yang diintubasi, kolonisasi trakhea dan terjadi mikroaspirasi sekresi saluran pernapasan atas yang terinfeksi, namun tidak semua kolonisasi akan mengakibatkan pneumonia. (Asih&Effendy:2004)
Menurut Asih &Effendy (2004),Mikroorganisme dapat mencapai paru melaluhi jalur, yaitu:
1). Ketika individu terinfeksi batuk, bersin atau berbicara , mikroorganisme dilepaskan kedalam udara dan terhirup oleh orang lain.
2). Mikroorganisme dapat juga terinspirasi dengan aerosol (gas nebulasi) dari peralatan terapi pernapasan yang terkontaminasi.
3). Pada individu yang sakit atau higiene giginya buruk, flora normal orofaring dapat menjadi patogenik.
4). Staphilococcus dan baktri gram (-) negatif dapat menyebar melaluhi sirkulasi dari infeksi sistemis, sepsis atau jarum obat IV yang terkontaminasi.
D. STADIUM PNEUMONIA BAKTERIALIS
Untuk pneumonia, terdapat empat macam stadium penyakit, diantara lain :
1). Stadium I disebut Hipetermia
Mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung didaerah paru yang terinfeksi, Hali ini ditandai oleh peningkatan aliran darah dan permiabilitas kapiler ditempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator paeradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan sel cedera.
2). Stadium II disebut Hepatisasi Merah
Terjadi sewaktu alveolus terisi sel-sel darah merah, eksudat, dan fibrin, stadium yang dihasilkan oleh pejamu sebagai bagian dari reaksi paradangan.
3). Stadium III disebut Hepatisasi Kelabu
Terjadi sewaktu sel-sel darah putih berkolonisasi bagian paru yang terinfeksi.
4). Stadium IV disebut Resolusi
Terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda:sisa-sisa sel, fibrin dan bakteri telah dicerna:dan makrofag, sel pembersih pada reaksi paradangan ,mendominasi.
E. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Asih &Effendy (2004),gejala-gejala pneumonia serupa untuk semua jenis pneumonia,tetapi terutama mencolok pada pneumonia yang disebabkan oleh bakteri.Gejala-gejala mencakup :
1). Demam dan mengiggil akibat proses peradangan.
2). Batuk yang sering produktif dan purulen
3). Sputum berwarna merah karat (untuk streptococcus pneumoniae),merah muda (untuk staphylococcus aureus),atau kehijauan dengan bau khas (Pseudomonas Aeruginosa).
4). Krekel (bunyi paru tambahan)
5). Rasa lelah akibat reaksi peradangan dan edema.
6). Biasanya sering terjadi respon subyektif dispnu.
7). Timbul tanda-tanda sianosis
8). Ventilasi mungkin berkurang akibat panimbunan mukus,yang dapat menyebabkan atelektasis absorpsi.
9). Hemoptisis, batuk darah, dapat terjadi akibat cedera toksin langsung pada kapiler , atau akibat reaksi paradangan yang menyebabkan kerusakan kapiler.
F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTI
- Pemeriksaan Laboratorium
-Laju Endapan Darah hingga 100 mm/jam
-Adanya peningkatan produksi Sputum
-Pemeriksaan Analisa Gas Darah (AGD) menunjukkan hipoksemia sebab terdapat ketidakseimbangan ventilasi-perfusi didaerah pneumonia.
- Pemeriksaan Radiologis
(Arif, Mutaqin: 2008)
G. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan untuk pneumonia tergantung pada penyebab,sesuai dengan yang ditemukan oleh pemeriksaan sputum pengobatan dan mencakup,antara lain :
1). Antibiotik, terutama untuk pneumonia bakterialis.Pneumonia lain juga dapat diobati dengan antibiotik untuk mengurangi resiko infeksi bakteri sekunder.
2). Istirahat
3). Hidrasi untuk membantu mengencerkan sekresi
4). Teknik-Teknik bernapas dalam untuk meningkatkan ventilasi alveolus dan mengurangi resiko atlektasis
5). Juga diberikan obat-obat lain yang spesifik untuk mikro-organisme yang diidentifikasikan dari biakan sputum.
A. PENGKAJIAN
- PENGKAJIAN DATA BIOLOGIS
Pengkajian Klien dengan Pneumonia (Doengoes,1999) meliputi :
A). Aktivitas
Gejala : Kelemahan, kelelahan dan isomia
Tanda : Letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas
B). Sirkulasi
Gejala : Riwayat adanya /GJK kronik
Tanda : Takikardi, penampilan kemerahan atau pucat
C). Integritas Ego
Gejala : Banyaknya Stressor,Masalah Finansial
D). Makanan/Cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan,Mual/muntah dan adanya Riwayat DM
Tanda : Distensi abdomen, hiperaktif bunyi usus, kulit kering dengan turgor Kulit buruk dan penampilan kakeksia (malnutrisi)
E). NeuroSensori
Gejala : Sakit Kepala daerah Frontal (Influenza)
Tanda : Perubahan Mental (Bingung, Somnolen)
F). Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Sakit Kepala, nyeri dada (pleuritik),meningkat oleh batuk,nyeri
Dada Substernal (Influenza), mialgia, dan atralgia
Tanda : Melindungi area yang sakit (Penderita biasanya tidur pada sisi
Yang sakit untuk membatasi pergerakan)
G). Pernapasan
Gejala : Riwayat adanya/ISK kronis,PPOM,Merokok Sigaret.
Takipnea, dispnea progresif, Pernapasan dangkal, penggunaan otot
Aksesori, pelebaran nasal.
Tanda : Sputum :Merah muda, berkarat atau purulen
Perkusi: pekak diatas area yang konsolidasi
Fremitus: taktil dan vokal terhadap meningkat dan konsolidasi
Gesekan Friksi pleura
Bunyi Napas: menurun atau tidak ada area yang terlibat atau napas
Brokial
Warna: Pucat atau sianosis bibir/kuku
H). Keamanan
Gejala : Riwayat gangguan sistem imun, misal AIDS, Penggunaan steroid
Atau Khemoterapi, Ketidakmampuan Umum Demam
(Misal:38,5-39,6 C)
Tanda : Berkeringat ,mengiggil berulang,gemetar
Kemerahan mungkin pada kasus rubeola atau varisela
I). Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Riwayat mengalami pembedahan:penggunaan Alkohol Kronis
Pertimbangan : DRG menunjukkan rerata lama dirawat:6,8 hari.
Rencana Pemulangan: Bantuan dengan perawatan diri.
Oksigen mungkin diperlukan, bila kondisi pencetus
Misalnya Sebuah Contoh Kasus Pneumonia Pada Dewasa
ANALISA DATA
|
SYMPTOM |
ETIOLOGI |
PROBLEM |
|
Ds :1. Batuk produktif 2. Sesak nafas |
Peningkatan Produksi sputum |
Ketidakefektifan Bersihan jalan napas |
|
Do : Warna kulit Pucat/Sianosis |
||
|
Ds :Sesak napas |
Penurunan jaringan efektif paru |
Gangguan Pertukaran Gas |
|
Do :1.Hiposekmia 2.Warna kulit pucat |
||
|
Ds : Demam |
Reaksi sistematis Bakterimia/Verimia |
Hipertermi |
|
Do :1. Menggigil 2. Berkeringat 3.Suhu (38,5-39,6 C) |
- PEMERIKSAAN UMUM
Keluhan Utama klien dengan pnemonia untuk meminta pertolongan kesehatan adalah sesak napas, batuk, dan demam
RIWAYAT PENYAKIT SAAT INI
Pada awalnya klien dengan batuk purulen dengan mukus purulen kekuning-kuningan,dan mengeluh mengalami demam tinggi dan menggigil. dan adanya keluhan nyeri dada pleuritis, sesak napas, Takipnea, dan lemas
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Apakah klien pernah mengalami gejala penyakit ISPA dengan gejala luka tenggorok, bersin.
- PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi : Didapatkan adanya batuk produktif disertai adanya peningkatan produksi sputum.
Palpasi : Getaran dinding thoraks anterior/ekskrusi pernapasan biasanya normal dan seimbang bagian kiri dan kanan.
Perkusi : Didapatkan bunyi resonan atau sonor seluruh lapang paru.
Aukultrasi : Didapatkan bunyi napas melemah dan bunyi napas tambahan ronki basah pada sisi yang sakit.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1). Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum
2). Gangguan Pertukaran gas berhubungan dengan penurunan jaringan efektif paru
3). Hipertermi berhubungan dengan reaksi sistematis:Bakterimia/Viremia.
C). INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI
Intervensi adalah Penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono,1994:20)
Implementasi adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi,1995:40).
Menurut Doengoes,1999 Intrevensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada klien dengan pneumonia,meliputi :
1). Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan produksi sputum.
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
|
1. Monitor frekuensi/Kedalaman pernapasan dan gerakan pernapasan 2). Bantu klien latihan napas sering. Tunjukkan/Bantu klien mempelajari melakukan batuk,misal:menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi. 3). Penghisapan sesuai indikasi 4). Berikan Cairan sedikitnya 2500 ml (Kecuali Kontraindikasi). Berikan air hangat daripada air dingin. 5). Kolaborasi untuk pemberian cairan tambahan,misal:IV , Oksigen humidifikasi dan ruangan humidifikasi |
1. Takipnae, pernapasan dangkal dan
gerakan dada tidak simetris sering terjadi karena ketidak nyamanan
gerakan dinding dada dan/atau cairan paru 2). Napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan napas lebih kecil. 3). Merangsang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada klien yang tidak mampu melakukan karena batuk tidak efektif atau Penurunan tingkat kesadaran. 4).Cairan (Khususnya yang hangat memobilisasi dan mengeluarkan sekret). 5). Cairan diperlukan untuk mengganti kehilangan (termasuk yang tidak tampak)dan mobilisasi sekret |
|
2 ). Gangguan Pertukaran gas berhubungan dengan penurunan jaringan efektif paru
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
1).Monitor frekuensi, kedalaman dan kemudahan bernapas 2).Observasi warna kulit,membran mukosa, dan kuku, catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral (Subkumoral). 3).Kolaborasi dengan team medis untuk terapi Oksigen dengan benar,misal :dengan nasal prong ,masker, masker venturi |
1). Manisfestasi distres pernapasan tergantung pada/indikasi derajat ketelibatan paru atau status kesehatan 2). Sianosis kuku merupakan vasokintriksi atau respon tubuh terhadap demam/mengiggil.Sianosis daun telinga, membran mukosa dan kulit sekitar mulut menunjukkan hiposekmia sistemik 3). Tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan PaO2 diatas 60 mmHg.Oksigen diberikan dengan metoda yang memberikan pengiriman tepat dalam batas toleransi |
3). Hipertermi yang berhubungan dengan reaksi Sistematis: Bakterimia/Viremia.
|
INTERVENSI |
RASIONAL |
|
1).Kaji saat timbulnya demam 2).Berikan Kompres Dingin 3).Berikan kebutuhan cairan ekstra 4).Berikan cairan intravena RL 0,5 dan pemberian antipiretik |
1).Mengindentifikasi pola demam 2).Konduksi suhu membantu menurunkan suhu tubuh. 3).Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan cairan tubuh meningkat, sehingga perlu diimbangi dengan cairan yang banyak. 4).Pemberian cairan sangat penting bagi klien dengan suhu tinggi. |
D. EVALUASI KEPERAWATAN
Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker,Cristine.2001).
Evaluasi yang Diharapkan pada Klien dengan pneumonia adalah :
1). Menunjukkan pola napas efektif dengan ferkuensi dan kedalaman rentang normal dan paru jelas/bersih.
2). Menunjukkan ventilasi adekuat/oksigenasi dalam rentang normal
3). Menunjukkan Suhu Diatas normal 37 0C.
DAFTAR PUSTAKA
- Muttaqin, Arif.(2008). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Penerbit, Salemba Medika
- Doengoes, Marlyn E.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3.Jakarta:Penerbit,EGC
- Asih & Effendy.(2004). Keperawatan Medikal Bedah Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Penerbit EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar