BAB III
TINJAUAN KASUS
3.1 Pengkajian lengkap
1.
Pengkajian
1)
Biodata / data
biografi :
Nama :
Tn. A
Umur :
35 tahun
Tanggal masuk
: 6 Juni 2010
2) Keluhan Utama / Alasan masuk RS :
Tn. A (35 th) datang ke RS
dr. M. Yunus Bengkulu pada tanggal 6 Juni 2010 jam 09.20 wib dengan
keluhan batuk berdahak dan sesak napas.
3)
Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS)
§
Faktor pencetus : Klien mengatakan sesak napas didahului oleh batuk pilk
seminggu sebelum masuk RS.
§
Munculnya keluhan (eksaserbasi) : klien
mengatakan sesak napas sejak 5 hari sebelum masuk RS.
§
Sifat keluhan : Klien mengatakan sesak
napas timbul perlahan-lahan, sesak napas terus menerus dan bertambah dengan
aktivitas.
§
Berat ringannya keluhan : Klien
mengatakan sesak napas cendrung bertambah sejak 2 hari sebelum masuk RS.
§
Upaya yang telah dilakukan untuk
mengatasi : Klien mengatakan upaya untuk mengatasi sesak adalah dengan
istirahat dan minum obat batuk (komix).
§
Keluhan lain saat pengkajian : Klien
juga mengatakan batuk dengan dahak yang kental dan sulit untuk dikeluarkan,
sehingga terasa lengket di tenggorokan. Klien mengatakan kesulitan bernapas.
Klien mengataka badannya terasa lemah dan ujung-ujung jarinya terasa dingin.
4) Riwayat kesehatan dahulu (RKD)
§
Klien mengatakan tidak ada riwayat
alergi terhadap kuman, debu, dll.
§
Klien mengatakan sebelumnya tidak perna
menderita sesak napas seperti ini.
§
Riwayat merokok lebih kurang 1 bungkus
perhari.
5) Riwayat kesehatan keluarga (RKK)
§
Klien mengatakan tidak ada anggota
keluarga yang mempunyai penyakit sesak napas seperti yang dialaminya dan tidak
ada anggota keluarga yan menderita penyakit keturunan dan penyakit menular
lainnya, seperti penyakit jantung, hipertensi, asma, Tb, dll.
Pola
nutrisi dan metabolisme
§
Klien mengatakan ia merasa mual sehingga
tidak nafsu untuk makan, da hanya mampu menghabiskan porsi setiap
kali makan (pagi, siang, malam).
6) Pemeriksaan fisik
§
Keadaan umum : Klien tampak lemah, klien
tampak kesulitan bernapas dan klien tampak gelisah.
§
TTV :
Ø
TD : 130/90 mmHg
Ø
ND : 100 x/i
Ø
RR : 25 x/m
Ø
S
: 38 °C.
§
BB : 58 kg (turun 2 kg dari 60 kg menjadi
58 kg)
TB :
167 cm
§
Sistem integumen (kulit) : turgor kulit
buruk (tidak elastis)
§
Kuku : kuku pucat dan sedikit sianosis
§
Hidung : pernapasan cuping hidung
§
Mulut : mukosa bibir kering dan pucat
§
Thorak / paru
Ø
Inspeksi :
RR : 32 x/i, penggunaan otot bantu pernapasan (+), takipnea (+), pernapasan
dangkal, dan retraksi dinding dada tidak ada
Ø
Palpasi :
Fremitus menurun pada kedua paru
Ø
Perkusi :
Redup
Ø
Auskultasi : Bunyi napas bronkial, krekels (+), stridor (+)
§ Vaskular perifer : akral dingin, capilarry refille kembali
dalam 5 detik.
7)
Pemeriksaan penunjang
§
Hasil foto rontgeng : menunjukkan
infiltrasi lobaris (sebagian lobus pada kedua paru)
§
AGD : menunjukkan alkalosis respiratorik
(pH naik, PCO2 turun, HCO3 normal)
§
Pemerikasaan sputum : ditemukan kuman
stapilococcus pneumonia
§
Pemerikasaan darah rutin didapatkan :
Ø
Leukosit = 16.000 / mm
Ø
Hb = 10,5 gr/ dl
Ø
Trombosit = 265.000/mm
Ø
Hematokrit = 44%
Ø
Albumin = 3,01 gr/dl
Ø
Protein total = 5,86 gr/dl.
3.2 Analisa Data
Format Analisa
Data
Nama Klien :
Ruang Rawat :
Diagnosa Medis :
|
No
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah
|
|
1
|
DS :
-
Klien mengatakan susah bernapas
-
Klien mengatakan hidungnya
terganggu dalam bernapas
DO :
-
Klien tampak susah saat bernapas
-
Klien bernapassesekali lewat mulut
-
RR : 35x / menit
-
Skala nyeri : 4
|
Inflamasi (peradangan)
parenkimparu
|
Tidak efektifitasnya jalan
nafas.
|
|
2
|
DS :
-
Klien mengatakan nyeri pada dada
karena batuk.
-
Klien mengatakan dadanya sering
sakit saat mengambil nafas.
DO :
-
Klien tampak meringis
-
Klien tampak gelisah
-
TTV
TD : 130/90 mmHg
N : 100
x / menit
RR : 25 x / menit
S
: 38oC
-
BB : 58 kg
-
TB : 167 cm
|
Proses inflamasitrakeabronkial
|
Gangguan rasa nyaman : nyeri
|
|
3
|
DS :
-
Klien mengatakan kehilangan nafsu
makan
-
Klien mengatakan mengalami mual
dan muntah
DO :
-
Klien tampak cemas dan gelisah
-
Klien tampak pucat
-
TTV :
TD : 100/70 mmHg
Nadi : 120 x/ menit
-
BB: 58 Kg (
turun 2Kg dari 60 Kg menjadi 58Kg).
-
TB:167
|
Bersihan jalan nafas tidak efektif
|
Gangguan nutrisi
|
3.3
Diagnosa Keperawatan yang
Muncul
1.
Kebersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan
pengaturan peningkatan produksi sputum
2.
Nyeri akut berhubungan dengan inflamasiparenkimparu.
3.
Risiko tinggi nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan anoreksia.
4.
Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan
pengiriman oksigen (hipoventilasi)
5.
Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan
pertahanan utama (penurunan kerja silia, perlengketan sekret pernapasan)
3.4
NCP (Nursing Care Planning)
Rencana Asuhan Keperawatan
Nama Klien :
Ruang Rawat :
Diagnosa Medik :
|
No
|
Diagnosa
|
Tujuan
|
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasionalisasi
|
|
1
|
Bersihan jalan napas tidak efektif
berhubungan dengan peningkatan produksi sputum
|
Diharapkan selama pengobatan jalan nafas kembali efektif
|
§
Mengidentifikasi atau menunjukkan perilaku mencapai bersihan jalan
nafas
§
Menunjukkan jalan napas paten dengan bunyi napas bersih, tidak ada
dispneasianosis
|
Mandiri :
§
Kaji
frekuensi/kedalamanpernapasan dan gerak dada
§
Bantu pasien
latihan napas sering. Tunjukkan/bantu pasien mempelajari melakukan batuk,
misal : menekan dada dan batuk efektif sementara posisi duduk tinggi
§
Penghisapan
sesuai indikasi
§
Berikan cairan
sedikitnya 2500 ml/hari (kecuali kontraindikasi). Tawarkan air hangat,
daripada dingin
Kolaborasi :
§
Bantu mengawasi
efek pengobatan nebuliser dan fisioterapi lain. Lakukan tindakan diantara
waktu makan dan batasi cairan bila mungkin
|
§
Takipnea,
pernapasan dangkal, dan gerak dada tak simetris sering terjadi karena
ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan/atau cairan paru
§
Napas dalam
memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/ jalan napas lebih kecil. Batuk adalah
mekanisme pembersihan jalan napas alami, membantu silia untuk mempertahankan
jalan napas paten. Penekanan menurunkan ketidaknyamanan dada dan posisi duduk
memungkinkan upaya napas lebih dalam dan lebih kuat
§
Merangsang batuk
atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada pasien yang tidak mampu
melakukan karena batuk tak efektif atau penurunan tingkat kesadaran
§
Cairan (khususnya
air hangat) memobilisasi dan mengeluarkan sekret
§
Memudahkan
pengenceran dan pembuangan sekret. Drainase postural tidak efektif pada
pneumonia interstisial atau menyebabkan eksudat alveolar/kerusakan.
Koordinasi pengobatan/jadwal dan masukan oral menurunkan muntah karena batuk,
pengeluaran sputum
|
|
2
|
Nyeri akut berhubungan dengan inflamasiparenkimparu
|
Selama perawatan 1 x 3 jam gangguan rasa nyeri dapat teratasi
|
§
Menyatakan nyeri hilang / terkontrol
§
Menunjukkan rileks, istirahat atau tidur dan peningkatan aktivitas
dengan tepat
|
Mandiri
§
Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas. Catat laporan dispnea.
Peningkatan kelemahan atau kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan
setelah aktivitas.
§
Tentukan karakteristik nyeri, misal tajam, konstan, ditusuk, selidiki
perubahan karakter/lokasi/intensitas nyeri
§
Pantau tanda vital
§
Berikan tindakan nyaman, misal pijatan punggung, perubahan posisi,
musik, tenang/perbincangan, relaksasi/latihan napas.
§
Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode
batuk
Kolaborasi
§
Berikan analgesik dan antitusif sesuai indikasi
|
§
Menetapkan kemampuan / kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan
intervensi
§
Nyeri dada, biasanya ada dalam beberapa derajat pada pneumonia, juga
dapat timbul komplikasi pneumonia seperti perikarditis dan endokartidis.
§
Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukkan bahwa pasien mengalami
nyeri, khususnya bila alasan lain untuk perubahan tanda vital telah terlihat.
§
Tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lambat dapat
menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesik.
§
Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan
keefektifan upaya batuk.
§
Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif/paroksimal
kenyamanan/istirahat umum.
|
|
3
|
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, yang berhubungan dengan toksin bakteri
|
|
§
Menunjukkan peningkatan nafsu makan
§
Mempertahankan/ meningkatkan berat badan
|
Mandiri
§
Identifikasi faktor yang menimbulkan mual muntah, misal sputum banyak,
pengobatan aeorosol, dispnea berat, nyeri.
§
Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering mungkin.
Berikan/ bantu kebersihan mulut setelah muntah, setelah tindakan aerosol dan
drainase postural, dan sebelum makan.
§
Jadwalkan pengobatan pernapasan sedikitnya 1 jam sebelum makan
§
Auskultasi bunyi usus, observasi/palpasi distensi abdomen.
|
§
Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah.
§
Menghilangkan tanda bahaya, rasa, bau, dari lingkungan pasien dan
dapat menurunkan mual.
§
Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini.
§
Bunyi usus mungkin menurun/tak ada bila proses infeksi
berat/memanjang. Distensi abdomen, terjadi sebagai akibat menelan udara atau
menunjukkan pengaruh toksin bakteri pada saluran GI.
|
3.5 Evaluasi
Format
Catatan Perkembangan
(Diisi Setiap Hari)
Nama Klien :
Ruang Rawat :
Diagnosa Medik :
|
Hari/Tanggal
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Implementasi
|
Evaluasi
|
|
Jum’at
06 Juni 2010
|
Bersihan jalan nafas tak
efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sputum
|
Jam : 08.00, 20-23 Juni 2010
-
Menjelaskan penyebab terjadinya
gangguan pola
-
Membantu pasien melakukan latihan
nafas
-
Berikan cairan sedikitnya 2.500
ml/hari/kecuali kontra indikasi/tawarkan air hangat dari pada air dingin.
-
Memberikan obat sesuai indikasi
misal : ekspektoran.
-
Berikan cairan tambahan misal IV
oksigen humidifikasi
|
S : Klien
mengatakan nafasnya tidak terlalu sesak lagi
O : RR :
44x/menit
A : Masalah
teratasi sebagian
P : Intervensi
dilanjutkan
|
|
Jum’at
06 Juni 2010
|
Nyeri akut berhubungan dengan
inflamasiparenkimparu
|
Jam : 13.00, 20-23 Juni 2010
-
Mengkaji tingkat nyeri, durasi,
lokasi, instensitas nyeri.
-
Pantau terus tanda vital secara
rutin.
-
Memberikan tindakan nyaman :
misalnya pijatan punggung perubahan posisi dan relaksasi.
-
Anjurkan dan bantu pasien dalam
teknik menekan dada selama episode batuk.
-
Memberikan analgesik dan antitusif
sesuai indikasi.
|
S : Pasien
mengatakan nyeri berkurang.
O : Klien
tampak tenang
A : Masalah
teratasi sebagian
P : Lanjutkan
intervensi.
|
|
06 Juni 2010
|
Nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh yang berhubungan dengan toksin bakteri
|
Jam : 08.00, 20-23 Juni
2010
-
Mengkaji faktor yang menimbulkan
mual dan muntah.
-
Menjadwalkan pengobatan pernapasan
sedikitnya 1 jam sebelum makan.
-
Berikan makanan porsi kecil dan
sering termasuk makanan kering/roti panggang/ dan atau makanan yang menarik
untuk pasien.
-
Mengevaluasi status nutrisi, umur,
ukur berat badan dasar.
-
Memberikan obat penambah nafsu
makan.
|
S : Klien
mengatakan sudah mau makan walaupun sedikit-sedikit.
O : Porsi
yang dimakan bertambah dari 3-5 sendok jadi ½ piring dan mulai mau makan
makanan lain.
A : Masalah
teratasi sebagian.
P : Intervensi
dilanjutkan.
|
BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Pneumonia adalah peradangan
yang mengenai parenkimparu distal dari bronkiolusterminalis yang mencakup
bronkulusterminalis dan alveoli serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan
gangguan pertukaran gas setempat yang pada umumnya disebabkan oleh bakteri,
virus, fungi dengan gejala dan tanda batuk non produktif, ingus, suara nafas
lemah, demam ronchi, dll.
Pada penyakit ini dilakukan
pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan darah radiologi, pemeriksaan cairan
pleura dan pemeriksaan biologi. Penyakit ini merupakan penyakit yang
menyebabkan kematian nomor tiga di Indonesia sehingga pada penanganan
perawatannya harus dilakukan asuhan keperawatan dan keperawatan harus baik dan
benar sehingga dapat menekan jumlah kematian pada penyakit pneumonia dan
pembangun kesehatan dapat terwujud.
4.2. Saran
Di dalam penulisan makalah
ini apabila ada kesalahan maka kami sebagai penulis mengharapkan kritik dan
saran untuk memperbaiki makalah ini yang akan datang yang sifatnya membangun.
DAFTAR PUSTAKA
Brunner
and Suddarth (2005). Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Doenges,
ME (2005). Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta
: EGC.
MansjoerArif
(2004). KapitaSelekta Kedokteran. Jakarta
: Media Aesculapius.
Noer,
Syaifullah, dkk (1996). Buku Ajar
Penyakit Dalam. Jakarta : FKUI.
TIM
FKUI (2006). Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta
: FKUI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar